Arah Besar Kontribusi Pada Masalah Bangsa – Oleh Agustin Peranginangin

Agustin Peranginangin -Ketua Umum Ikatan Alumni ITB
Terbitnya buku “100 Alumni ITB Kebanggaan Almamater” Edisi 2026 merupakan kelanjutan dari upaya mendokumentasikan kiprah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam berbagai sektor strategis. Buku ini adalah edisi kedua setelah pada masa kepemimpinan Ketua Umum Ikatan Alumni ITB Gembong Primajaya diterbitkan buku “Rasional, Kritis, Objektif” yang menghimpun 64 profil alumni. Jika edisi pertama menegaskan karakter dasar alumni ITB, maka buku kedua ini memperlihatkan bagaimana karakter tersebut bekerja dalam realitas yang jauh lebih kompleks.

Salah satu misi buku ini untuk memperlihatkan arah besar kontribusi alumni dalam isu-isu kunci bangsa. Pada sektor energi, misalnya, terlihat jelas bagaimana para alumni tidak hanya berbicara pada tataran operasional, tetapi juga strategi jangka panjang.

Para alumni yang bergerak di bidang energi, mendorong keseimbangan antara energi konvensional dan energi rendah karbon, sekaligus menempatkan ketahanan energi sebagai bagian dari kemandirian nasional. Ada alumni yang memperdalam potensi logam tanah jarang menunjukkan bahwa masa depan energi dan teknologi tidak bisa dilepaskan dari penguasaan mineral kritis.

Dalam bidang infrastruktur, perspektif yang ditampilkan juga tidak lagi sederhana. Alumni yang bergerak di bidang ini, memandang infrastruktur sebagai fondasi peradaban, bukan sekadar pembangunan fisik.

Pandangan ini diperkuat oleh gagasan para pemangku kebijakan lain yang terlibat dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara, yang menempatkan keberlanjutan lingkungan dan integrasi sistem sebagai prinsip utama.

Banyak alumni yang bergerak di bidang telekomunikasi dan transformasi digital banyak mewarnai dalam buku ini. Pentingnya budaya kolaboratif dalam mendorong digitalisasi, dan menghadirkan solusi konkret melalui pengembangan akses jaringan di wilayah yang belum terjangkau.

Ada juga alumni yang mendalami peran data sebagai dasar pengambilan kebijakan ditegaskan, yang menempatkan akurasi data sebagai fondasi keputusan ekonomi nasional.

Buku ini juga memperlihatkan keluasan spektrum kiprah alumni ITB. Tidak semua berada di sektor teknis. Ada yang bergerak di ranah kebijakan publik, termasuk Lembaga perwakilan seperti DPR RI. Ada pula yang menapaki jalur seni patung dan desain seperti Nyoman Nuarta yang menunjukkan bahwa kreativitas juga menjadi bagian dari kontribusi terhadap bangsa. Keragaman ini menegaskan bahwa pendidikan di ITB tidak membatasi, melainkan membuka kemungkinan yang luas bagi setiap lulusannya.

Dari keseluruhan narasi yang tersaji, tampak bahwa ada satu benang merah yang konsisten, yaitu kemampuan berpikir sistemik dan keberanian mengambil peran di tengah ketidakpastian. Para alumni tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga perancang arah. Mereka hadir di titik-titik krusial, baik dalam pengambilan keputusan, pengembangan teknologi, maupun pengelolaan sumber daya strategis.

Sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni ITB, saya melihat buku ini bukan sekadar kumpulan profil, tetapi sebagai potret ekosistem kontribusi. Di dalamnya tergambar bagaimana hubungan antara kampus, alumni, dan realitas pembangunan saling terhubung. Ini menjadi pengingat bahwa kekuatan alumni tidak terletak pada individu semata, tetapi pada jejaring dan kolaborasi yang terus dijaga.


“Sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni ITB, saya melihat buku ini bukan sekadar kumpulan profil, tetapi sebagai potret ekosistem kontribusi. Di dalamnya tergambar bagaimana hubungan antara kampus, alumni, dan realitas pembangunan saling terhubung. Ini menjadi pengingat bahwa kekuatan alumni tidak terletak pada individu semata, tetapi pada jejaring dan kolaborasi yang terus dijaga.”

Ikatan Alumni ITB akan terus mendorong semangat tersebut, memperkuat sinergi antar alumni, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan. Tantangan ke depan tidak semakin ringan, dan justru karena itu diperlukan kerja bersama yang lebih solid, berbasis pengetahuan, dan berorientasi pada solusi.

Bagi generasi muda, buku ini memberikan pelajaran bahwa jalan hidup tidak selalu lurus. Namun dengan bekal cara berpikir yang kuat, integritas, dan kemauan untuk terus belajar, setiap tantangan dapat diubah menjadi peluang untuk berkontribusi lebih luas.

Akhirnya, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyusun buku ini dengan kesungguhan dan ketekunan. Terimakasih pada bapak Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., yang selalu mendorong alumni memberikan pengabdiannya yang maksimal untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Khusus untuk majalah Kampus Indonesia yang menginisiasi terbitnya buku ini, Penerbit Citra Almamater Baru sebagai pelaksana, dan Bambang Sadono sebagai penyunting, bersama tim editor dan penulis, kami sangat berterima kasih.

Semoga buku ini tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami, direnungkan, dan menjadi pemantik lahirnya kontribusi baru bagi Indonesia.

**

Agustin Peranginangin
lahir di Tiga Binanga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 14 Agustus 1975. Menyelesaikan S1 Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB). Berkarier di bidang pengembangan destinasi wisata dan pengelolaan kawasan pariwisata, pernah menjabat Direktur Operasional PT Citra Pamungkas Mandiri serta Komisaris Utama di PT Arka Dharma Nusantara. Bergabung dengan Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) sebagai Direktur Destinasi Pariwisata dan saat ini menjabat sebagai Direktur Utama. Menjadi Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) periode 2025–2029.

Share the Post:

Artikel Terkait :